Saturday, January 26, 2019

Pandangan Negatif Masyarakat Terhadap Partai Politik di Indonesia

https://www.geraldirizki.com/2019/01/pandangan-negatif-masyarakat-terhadap-partai-politik.html
(Sumber: Opini pribadi, Rahmat bagus dewanto, Kompas)

Pemilihan umum atau biasa disebut pemilu merupakan ajang yang dimana masyarakat berhak memilih calon pemimpin. Nah, di tahun 2019 sekarang nih, pemilu calon presiden dan calon wakil presiden diselenggarakan pada tanggal 17 April 2019.

Ada dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, yaitu :

  • Ir. H. Joko Widodo (Presiden RI ke-7) & Prof. Dr. KH Ma'ruf Amin (Nomor urut 1)
  • Let. Jend. H. Prabowo Subianto & H. Sandiaga Uno (Nomor urut 2)

Yang akan menjadi pembahasan disini adalah Pandangan negatif masyarakat , dan sampai artikel ini di posting, posisi saya serta rekan hanya bersifat netral. Mari simak opini-nya !


1. Terdapat Banyak Faktor

Perlu diketahui sebelumnya, banyak banget faktor-faktor yang membuat masyarakat itu menjadi apatisme terhadap perkembangan politik di Indonesia nih, apalagi dengan ada-nya kontroversi dan berita hoax yang membuat perpecahan antar satu sama lain, seperti tidak ada lagi rasa kepedulian untuk bisa memahami ataupun meng-analisis politik.

Yang lebih parah lagi sih... ada-nya golput (Golongan Putih yang mempunyai sikap individu untuk tidak melakukan hak-nya saat pemilu berlangsung). Jangan sampai kita terus terlarut dengan suasana politik Indonesia yang seperti ini, karena dapat menyebabkan dampak negatif ke masyarakat itu sendiri, seperti 

> Pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia)
> Ada-nya diskriminasi
> Dan lain-lain

Ketiga hal tersebut adalah dampak negatif yang diakibatkan dari kurangnya pemahaman terhadap politik.


2. Perbedaan Partai Politik dan Koalisi

Apa sih perbedaan partai politik dan koalisi ? Jika kalian sempat terpikirkan apa perbedaan-nya, baca sampai habis poin kedua yang ada dibawah ya.

Partai Politik biasa disebut parpol ini mempunyai tugas sebagai media yang mampu menyampaikan aspirasi masyarakat kepada negara dengan menjadi perwakilan dari anggota partai untuk menjadi salah satu alat yang mampu menampung serta menjalankan aspirasi masyarakat, contohnya seperti : Presiden, Menteri, DPR / MPR, dan pemerintahan yang mendukung berjalan-nya aspirasi masyarakat.

Koalisi adalah dukungan dari dua atau lebih partai politik lain terhadap partai politik yang mempunyai kesempatan untuk melakukan pemilu demi mencapai tujuan bersama. 


3. Harus Cerdas

Sebagai masyarakat kita harus bersifat kritis terhadap politik di Indonesia, kita harus cerdas dalam melihat calon pemimpin untuk kepentingan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Negara itu membutuhkan masyarakat agar tahu kebijakan apa yang semesti-nya dibuat. Begitu juga masyarakat, masyarakat memerlukan negara agar kepentingan dan kebutuhan dapat di akomodasi. 


4. Pandangan Negatif Terhadap Partai Politik

Partai Politik memiliki fungsi untuk membangun dan memperlancar hubungan antara negara dengan masyarakat, simbiosis mutualisme seperti ini dapat membangun suatu ketertiban dan kedamaian dalam hidup ber-negara. 

Tapi, pandangan terhadap Partai Politik sudah terlihat negatif dibeberapa mata masyarakat, karena ada faktor atau oknum yang mendukung masyarakat ber-opini, seperti "partai politik hanya alat untuk menjadikan anggota-anggota nya menjadi elite di pemerintahan untuk memenuhi kepentingan partai ataupun kepentingan pribadi". 

Kemudian terjadilah yang nama-nya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), yang dapat menyebabkan penyalahgunaan wewenang terhadap jabatan yang dimiliki untuk memperkaya diri sendiri dari uang rakyat (korupsi), bekerjasama dengan mafia atau pebisnis lain untuk diri sendiri tanpa memikirkan keadaan rakyat (kolusi), dan memudahkan keluarga maupun kerabat untuk bisa duduk di pemerintahan (nepotisme).

Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.

Wisata

Nightlife